Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2013

Ide Lagi-lagi Ide



Beberapa hari, aku memikirkan beberapa ide apa yang harus aku angkat ke ceritaku, rasanya otak ini pengen diperas kemudian diberi bilasan yang baru agar nemu ide yang segar. Ide yang mana bisa membuat karya yang terbaik. Kata “apa” dan “bagaimana” itu selalu memutus keinginan membuat karya tulis, nyerah dah rasanya.

Lanjut menulis lagi, andai ada alat Doraemon yang bisa membantu menulis yang disertai ide yang bagus pasti enak ya…?.  Akhirnya jadi tidak jadi menulis malah melamun, mengkhayalkan apa-apa yang di inginkan. Sejam berlalu kertas masih kosong, hal yang dipikirkan adalah bagaimana awal membuat ceritanya?; Siapa nama tokoh yang tepat dan bagus ?; terus alurnya bagaimana?; cerita cintakah? Dari sekian banyak pertanyaan yang mengambang di kepala.

Kertas masih putih dengan garis yang tidak cacat sedikitpun, pena pun masih berputar di tangan belum juga menari, menitikkan noda hitam yang nantinya bisa jadi karya. Mengkhayal kembali, “kok bisa ya penulis itu menemukan ide secemerlang itu?”. Pindah lokasi cari lokasi yang adem, siapa tahu ide bisa muncul. Tak lama kemudian “Aaaaaaaaaaaaarrrggghhhhh… ide kenapa sih kamu nggak mau datang, kamu lagi ngapain sih? datang aja kok ribet” Aku teriak sendiri di kamar kost yang berserakan layak kapal pecah. Istirahat akhirnya opsi yang terbaik, “ngaso-ngaso karo nyemil ndanio nemu ide sing top(1 beranjak dari bawah ke tempat tidur. Komputer yang masih nyala di temani Mp3 yang masih meriuhkan kamar, lagu Maudy Ayunda satu album terpampang di Playlist.

Terlentang tengok kiri, kanan, Tiiit…tiiit…tiit…tiit… Hape berbunyi ada satu pesan. From Chicha “ Bru dari coban.Ni lagi duduk2 d rmhx apan trus mau k aga” . langsung saja dibalas “whehe wenak, ngati2 jangan lupa maem”, lanjut lagi nyari ide. “pamggil aku sayang….. panggil aku cinta.aaa betapa bahagianya aku… bila kudemgar kau panggil aku sayaang…” lagu Maudy Ayunda masih berdendang di kamar. Ke belakang dulu ya… permisi………………………….
Boring…. Kata itu baru terucap, ide mana ya…? “Lha kok iso angel men to yo yo goleki ide ae angel eram(2 “Andai dirimu pemilik hatiku….” Sudah ganti berapa lagu, kertas masih belum berubah posisi.
Akhirnya ….. “sudahlah capek mending makan dulu laper lagi”…
Seorang Penulis handal pun tidak akan memaksakan diri untuk menulis jika memang tiada ide yang bisa dibuat jadi karya..

   1)      Istirahat sekalian nyemil mugkin menemukan ide yang bagus
   2)      Lha kok bisa sulit sekali ya. Mencari ide saja susah banget.

Senin, 18 Februari 2013

7 Hal Paling Disenangi

hal paling menyenangkan tentunya setiap orang punya hal yang berbeda-beda kalau bicara tentang hal yang menyenangkan, karena hal itu bersifat relatif dan tergantung pada empunya hal yang disenangi. mungkin banyak berbagai hal yang menjadi dasar tentang hal yang disenangi, dan ini saya akan menunjukkan hal yang paling saya senangi baik yang sudah tecapai maupun belum tercapai,

7 hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya :
  1.  Membuat Bapak saya selalu senang dan tertawa plus bangga dengan hasil yang saya peroleh, dengan melihat beliau tersenyum saja akan memberikan semangat baru untuk berjuang memperoleh hasil yang terbaik lagi.
  2.  Membuat kakak saya bangga terutama dalam hal prestasi akademik, meskipun saya sudah berulang kali saya kurang maksimal dalam prestasi akademik maupun lainynya, namun saya tetap senang karna dibalik kekurangan dan kegagalan mereka senantiasa ada memberikan semangat yang tak pernah padam.
  3. Ketika saya berhasil menjalankan suatu rencana kegiatan, kalau yang ini pasti tidak bisa dipungkiri pasti banyak yang setuju dengan pendapat saya.
  4. Ketika saya diberi coklat atau eskrim coklat, pastinya pendapat yang ini banyak yang mengira saya seperti anaka kecil yang senang dengan cukup diberi eskrim coklat dan sebagainya, namun saya punya alasan lain karena coklat itu kan manis jadi saya berpendapat bahwa coklat adalah perwujudan dari sang pemberi(alias saya itu senanag dan senang hati jika dikasih coklat).
  5.  Ketika ada seorang yang mau membagi cerita dengan saya, siapapun dan tak terkecuali. karena saya ingin belajar dari setaip orang yang bercerita, karena saya beranggapan bahwa mereka yang mempunyai cerita pastinya mereka memiliki pengalaman yang tak ternilai harganya,
  6. Ketika saya melihat pacar saya tersenyum karena tingkah saya, wah kalau hal yang begini pasti banyak anak muda yang setuju apalagi yang laki-laki, berarti saya tak perlu menjelaskan lagi.
  7. Saya senang bisa jadi orang sukses dan bisa berguna bagi orang disekitar saya, ini adalah mimpi dari seorang anak kecil yang sedang mengukir masa depannya menjadi secerah apa yang dibayangkan.


hal di atas adalah beberapa hal yang menyenang dari sekian banyak hal yang saya senangi. nah kalau begitu apa hal yang ada senangi??? 

silahkan komentarnya terima kasih

Minggu, 27 Maret 2011

melawan hawa nafsu

Mahasuci Sang pncipta Alam, Dzat yang memiliki segalanya.
Mahacermat, Mahasempurna, sehingga sama sekali tiada membutuhkan apapun.
karena secara total telah mencukupi dirinya sendiri. Ribuan malaikat yang gemuruh bertasbih, bertahmid,
dan bertakbir tiap detik, tiap waktu, tiap kesempatan memuji atas namaNYA,
itupun smata mata hanya menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya.


Diciptakan-Nya makhluk jin dan manusia, lalu diperintahkan
untuk taat, bukan karena Sang Pencipta membutuhkan ketaatan makhluk-Nya.
Sungguh, semua perintah dari Allah adalah karunia agar kita menjadi terhormat, mulia, dan bisa kembali ke tempat asal mula kita yaitu SURGA.

Jadi kalau kita masuk neraka, naudzubillah, sama sekali bukan karena kurangnya karunia Sang mahasempurna, tapi karena saking gigihnya kita ingin menjadi ahli neraka,
yaitu dengan banyaknya maksiat yang kita lakukan.

Tuhan Mahatahu, bahwa kita memiliki kecenderungan lebih ringan kepada hawa nafsu dan lebih berat kepada taat.
Oleh karena itu, jika kita mendapat perintah dari-NYA, dalam bentuk apapun, si nafsu ada kecenderungan 'berat' melakukannya, bahkan tak segan-segan untuk menolaknya.
Misal; sholat, kecenderungannya ingin dilambatkan. Shaf saja,
orang yang berebutan shaf pertama itu tidak banyak, amati saja bahwa shaf belakang cenderung lebih banyak diminati. Perintah sholat banyak yang melakukan, tapi belum tentu semuanya tepat waktu, yang tepat waktu juga belum tentu bersungguh-sungguh khusu'. Bahkan ada kalanya - mungkin kita yang
justru menikmati shalat dengan pikiran yang melantur, melayang-layang tak karuan, sehingga tak jarang banyak program atau urusan duniawi lainnya
yang kita selesaikan dalam shalat. Dan yang lebih parah lagi, kita tidak
merasa bersalah.

Saat menafkahkan rizki untuk sedekah, maka si nafsu akan membuat seakan-akan sedekah itu akan mengurangi rizki kita, bahkan pada lintasan berikutnya sedekah ini akan dianggap membuat kita tidak punya apa-apa. Padahal, sungguh sedekah tiak akan mengurangi
rizki, bahkan akan menambah rizki kita. Namun, karena nafsu tidak
suka kepada sedekah, maka jajan justru lebih disukai.

Sungguh, kita telah diperdaya dengan rasa malas ini. Bahkan saat malas beribadah, otak kita pun dengan kreatif akan segera berputar untuk mencari dalih ataupun alasan yang dipandang "logis dan rasional". Sehingga apa-apa yang tidak kita lakukan karena malas, seolah-olah mendapat legitimasi karena alasan kita yang logis dan rasional itu, bukan semata-mata karena malas. Ah, betapa hawa nafsu begitu pintar mengelabui kita. Lalu, bagaimana, cara kita mengatasi semua kecenderungan negatif diri kita ini ?

Cara paling baik yang harus kita lakukan adalah kegigihan kita melawan kemalasan diri ini, karena kecenderungan malas kalau mau diikuti terus-menerus tidak akan ada ujungnya,
bahkan akan terus membelit kita menjadi seorang pemalas kelas berat, naudzubillah.
Berangkat ke Mesjid, maunya dilambat-lambatkan, maka lawan ! Berangkat saja. Ketika terlintas, nanti saja wudlunya di Mesjid.
Lawan ! Di Mesjid banyak orang, segera lakukan wudlu di rumah saja!
Itu sunah. Sungguh orang yang wudhu di rumah lalu bergegas melangkahkan kakinya ke Mesjid untuk sholat, maka setiap langkahnya adalah penggugur dosa dan pengangkat derajat.

Sampai di Mesjid paling nikmat duduk di tempat yang memudahkan dia keluar dari Mesjid, bahkan kadangkala tak sungkan untuk menghalangi orang lewat. Lebih-lebih lagi bila memakai sendal bagus, ia akan berusaha sedekat mungkin dengan sendalnya, dengan alasan takut dicuri orang. Begitulah nafsu, sungguh bagi orang yang ingin kebaikan, dia akan berusaha agar duduknya tidak menjadi penghalang
bagi orang lain. Maka akan dicarinyalah shaf yang paling depan,
shaf yang paling utama.

Sesudah sholat, ketika mau dzikir, kadang terlintas urusan pekerjaan yang harus diselesaikan, maka bagi yang tekadnya kurang kuat ia akan segera ngeloyor pergi, padahal zikir tidak lebih dari sepuluh menit, ngobrol saja 1 jam masih dianggap ringan. Atau ada juga yang sampai pada tahap zikir, diucapnya berulang-ulang, subhaanallah subhaanallah, tapi pikiran melayang kemana saja. Anehnya lagi kalau memikirkan "Dia Si Jantung
Hati", konsentrasinya sungguh luar biasa. Kenapa misalnya, mengucap
subhaanallah 33x yang sadar mengucapkannya, cuma satu kali? Atau ingatlah saat kita akan berdoa, kadang kita malas, ada saja alasan untuk tidak berdoa, walaupun dilakukan, akan dengan seringkas mungkin. Padahal demi ALLAH dzikir-dzikir yang kita ucapkan akan kembali pada diri kita juga.

Oleh karena itu, bila muncul rasa malas untuk beribadah, itu berarti hawa nafsu berupa malas sedang merasuk menguasai hati.
Segeralah lawan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada, dengan
cara segera melakukan ibadah yang dimalaskan tersebut. Sekali lagi, bangun dan lawan ! Insya Allah itu akan lebih dekat kepada ketaatan.
Janganlah karena kemalasan beribadah yang kita lakukan, menjadikan kita tergolong orang-orang munafik, naudzubillah.

Firman-Nya, " Sesungguhnya orang-orang munafik
itu hendak menipu ALLAH dan ALLAH akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut ALLAH, kecuali sedikit saja". (Q.S. AN Nisa 4: 142).

Ingatlah bahwa kalau kita tergoda oleh bisikan hawa nafsu berupa kemalasan dalam beribadah, maka kita ini sebenarnya sedang menyusahkan diri sendiri, karena semua perintah itu adalah karunia ALLAH.
Coba, ALLAH menyuruh kita berdzikir, siapa yang mendapat pahala ? Kita. ALLAH menyuruh berdoa,lalu doa diijabah,
buat Siapa ? Buat kita. ALLAH sedikitpun tidak ada kepentingan manfaat atau mudharat terhadap apa-apa yang kita lakukan.
Tepatlah ungkapan Imam Ibnu Atho'illah dalam kitabnya, Al Hikam, "Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kepadamu untuk masuk ke dalam SURGA-NYA
(dan tidak mewajibkan apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk kedalam surga-Nya)".

Maka Abul Hasan Ashadily menasehatkan kepada kita, "Hendaklah engkau mempunyai satu wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dengan lebih mencintai
TUHANMU (ALLAH SWT)".

Maka kalau kita sengsara, kita susah, kita menderita, itu bukan karena siapa-siapa, itu semua kita yang berbuat. Padahal sungguh, setiap desah nafas yang kita hembuskan adalah amanah dari ALLAH SWT, dan sebagai titipan wadah yang harus kita isi dengan amal-amal kebaikan.
Sedangkan hak ketuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang
dilalui oleh seorang hamba. Abul Hasan lebih lanjut mengatakan, "Pada tiap waktu ada bagian yang mewajibkan kepadamu terhadap ALLAH SWT (yaitu beribadah)".

Jadi sungguh sangat aneh jika kita bercita-cita ingin bahagia, ingin dimudahkan urusan, ingin dimulyakan, tapi justru amal-amal yang kita lakukan ternyata menyiapkan diri kita untuk hidup susah.

Seperti orang yang bercita-cita ingin masuk surga tapi amalan-amalan yang dipilih amalan-amalan maksiat. Maka, sahabat-sahabat Q sekalian sederhanakanlah hidup kita, paksakan diri ini untuk taat kepada perintah ALLAH, kalau belum bisa ikhlas dan ringan dalam beribadah.

Mudah-mudahan ALLAH yang melihat kegigihan diri kita memaksa diri ini, nanti dibuat jadi tidak terpaksa karena Dia-lah yang Maha Menguasai diri ini.

adapted by anwar iskhak

Rabu, 23 Maret 2011

Dewasa itu adalah....

iri khas umat Dewasa diawali dg Diam Aktif yaitu kemampuan untk menahan diri dlm berkomentar.
Orang yg memiliki kedewasaan dpt dilihat dri sikap dan kemampuannya dlm mengendalikan lisannya,

Orang tua yg kurang dewasa mulutnya sangat sering berbunyi, semua hal dikomentari., ketika dia
melihat sesuatu langsung dipastikan akan dikomentari, ketika menonton televisi misalnya ;
komentar dia akan mengalahkan suara dari televisi yg dia tonton. Sdang Penonton tv yg dewasa itu
senantiasa bertafakur, apapun yg dlihat psti direnungkan dan di ambil mnfa'atnya,.

Kedewasan seseorang dpt dilihat dari
keberanian melihat dan meraba perasaan orang lain. Seorang ibu yg dewasa dan bijaksana dpt
dilihat dari sikap terhadap pembantunya yaitu tdk semena-mena menyuruh, walaupun sdah merasa menggajinya. bukankah dkantor ktika lembur pasti ingin dibayar overtime?
ttapi pembantu lembur tdk ada overtime?
semakin orang hnya mementingkan
perasaannya saja maka akan
semakin tdk bijaksana. Semakin orang bisa meraba penderitaan orang lain maka akan semakin bijak pla dirinya. Percayalah tidak akan bijaksana orang yg hidupnya hnya memikirkan perasaannya sendiri.

Orang yg dewasa, cirinya hati-hati (Wara') dlm bertindak. Orang yg
dewasa benar-benar berhitung tdk hanya dari benda, tp dari waktu ; tiap detik,tiap tutur kata , dia tidak mau jika harus menanggung karena salah dlm mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya sangat
tdk hati-hati dlm bercakap dan mengambil keputusan.

Orang yg bersikap atau memiliki
kepribadian dewasa (wara') dapat dilihat dalam kehati-hatian memilih kata, mengambil keputusan,mengambil sikap, karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh.

Orang yang dewasa terlihat dalam kesabarannya (sabar), kita ambil contoh ;
didalam rumah seorang ibu mempunyai 3 orang anak, yg satu menangis, kemudian yg lainnya pun ikut menangis
sehingga lama-kelamaan menjadi empat orang yg menangis , mengapa? karena ternyata ibunya menangis pula.
Ciri orang yg dewasa adalah sabar, dalam situasi sesulit apapun lebih tenang, mantap dan stabil.

Sahabat, seseorang yg dewasa benar-benar mempunyai sikap yg amanah,
dan memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab.

Untuk melihat kedewasaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya
bertanggungjawab,
contoh ; seorang ayah dapat dinilai bertanggung jawab atau tidak yaitu dalam cara mencari nafkah yg halal dan mendidik anak istrinya,
Bukan masalah kehidupan dunia ,yang
menjadi masalah,
tp mampu tidak mempertanggung jawabkan anak-anak ketika pulang ke akherat nanti,
Oleh karena itu orang tua harus bekerja keras untuk menjadi jalan
kesuksesan anak-anaknya di dunia dan akherat.

Pernah ada seorang ayah menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, ketika ditanya tentang
sholatnya, ternyata tidak berjalan dengan baik karena orang-orangnya tidak ada yang sholat
sehingga melakukannya pun kadang-kadang, apalagi untuk shalat Jumat jarang dilaksanakan, dg
alasan masjidnya jauh.

Lalu kenapa disekolahkan di Luar Negeri? alasannya adalah sebentar lagi globalisasi.,
ketika perdagangan bebas anak harus disiapkan.
Tetapi bagaimana jika sebelum perdagangan bebas anaknya meninggal dunia? sudah disiapkan belum pulang ke akherat?
orang yang dewasa akan berpikir keras bagaimana anak-anaknya bisa selamat, Jgan sampai di dunia berprestasi tp diakherat celaka.

Saudaraku,
jngan prnh merasa bangga dg menjadi tua, mempunyai kedudukan, ataupun jabatan,
karena semua itu sebenarnya hanyalah topeng, bukan tanda prestasi.
Krn Prestasi itu adalah ketika kita semakin matang, dan semakin dewasa .

Kesuksesan kita adalah bagaimana kita bisa memompa diri kita dan menyukseskan orang-orang disekitar kita,
kalau ingin tahu kesuksesan kita coba lihat perkembangan keluarga kita, istri dan anak-anak kita maju tidak?
lihat sanak saudara kita pada maju tidak?
Jangan sampai kita sendirian yang maju, tapi sanak saudara kita hidup dlm kesulitan, ekonominya seret, pendidikan seret.,sedang kita tidak ada kepedulian.

Wallahu'alam
 adapted from Anwar Al Iskhak